DEFINISI SAMSKARA
Kata “Samskara” berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki banyak arti, diantaranya yang erat kaitannyadengan pelaksanaan yadnya. Maka kata samskara berarti membudayakan, membiasakan, menyucikan, menjadikan sempurna, dan dapat pula berarti upacara keagamaan.
Apabila dihubungkan dengan kenyataan yang membudaya dalam masyarakat Hindu dalam hubungannya dengan pengamalan ajaran agama, maka kita hampir selalu akan melihat adanya pelaksanaan beraneka ragam upacara. Upacara-upacara tersebut sesungguhnya merupakan korban suci yang bertujuan untuk membersihkan lahir batin dan memelihara hidup umat manusia secara rohaniah, mulai dari terbentuknya jasmani di dalam kandungan sampai dengan berakhirnya kehidupan itu.
Jadi, samskara itu merupakan upacara keagamaan yang bertujuan untuk menyucikan badan dan menjadikannya sempurna, agar layak memuja Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam keadaan diri yang bersih atau suci itulah diharapkan Sang Hyang Widhi Wasa berkenan memberikan anugerah bahkan meragasukma pada diri manusia. Hal ini digambarkan dalam sebuah kitab Arjuna Wiwaha yang berbunyi :
“Sasi wimbha haneng gatha mesi banyu, ndan asing suci nirmala mesi wulan, iwa mangkana rakwa kiteng kadadin, ring angmbeki yoga kiteng sakala”.
Artinya :
Bagaikan bayangan bulan pada tempayan yang berisi air, hanya pada air yang bersih dan tenang itulah bayangan bulan itu tampak. Demikianlah pula Dia akan menampakkan diri (meragasukma) pada orang yang berjiwa bersih dan suci. Tujuan pelaksanaan samskara itu sangat mulia, yaitu mencapai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yang terdiri dari Dharma, Artha, Kama, dan Moksa atau dengan istilah lain “moksartham jagadhita ya ca iti dharma” yaitu tercapainya kesejahteraan hidup serta kebahagiaan yang hakiki dan sejati.
Pelaksanaan samskara bukan merupakan kebiasaan yang melembaga dalam masyarakat, melainkan pelaksanaan samskara itu adalah perintah agama yang dinyatakan di dalam kitab Weda Smerti II.26 yang berbunyi :
“Waidikah karmabhih punyair, nisekadir durijanmanam, karyah sarira samskarah, pawanah pretyaceha ca”.
Artinya :
Sesuai dengan ketentuan-ketentuan pustaka suci Weda, para dwijati hendaknya melaksanakan upacara-upacara suci pada saat terjadinya pembuahan dalam rahim ibu dan upacara-upacara kemanusiaan lainnya, sehingga dapat menyucikan diri dari segala dosa dalam hidup ini maupun setelah meninggal.
JENIS JENIS SAMSKARA
1. Garbhadhana Samskara
Yatheyam
prthivi mahi bhutanam garbhamadadhe,
Eva te dhriyatam garbho anu sutum savitave
(Atharvaveda
: 6.17.1)
TERJEMAHAN
“Seperti halnya bumi yang luas ini,
mengandung semua makhluk, demikian juga oh istriku engkau menjadi hamil dan
dari kehamilan tersebut dapat melahirkan seorang yang seperti sang surya penuh
dengan cahaya dan sinar”.
Mantra tersebut berasal dari Atharvaveda
yang membicarakan tentang Garbhadhana samskara atau upacara sebelum
kehamilan. Mantra tersebut perlu diucapkan sebelum suami istri mempunyai
keinginan untuk mendapatkan keturunan atau anak. Dalam Susruta 1.35,
dikatakan bahwa waktu untuk pernikahan pria di atas 25 tahun dan wanita dan di
atas 16 tahun dan tidak boleh di bawah umur ini. Jika seorang anak lahir dari
kandungan ibu di bawah umur ini, anak yang akan lahir kurang sempurna dan akan
cepat meninggal.
Dalam Manawa Dharmasastra 3.40.50
dikatakan bahwa waktu yang paling cocok untuk melakukan hubungan suami istri
untuk menghasilkan anak adalah 16 hari setelah mulainya menstruasi. Empat hari
setelah masa menstruasi atau setelah hari kelima sampai hari ke dua belas hari
sejak selesai menstruasi dan jika hamil, anak yang lahir akan sempurna dan
sehat serta bijaksana. Jika wanita hamil setelah hari kedua belas, anak yang
lahir akan kurang sempurna dalam umur, kesehatan, kekayaan, keuntungan,
kekuatan dan warna (tasu utarottaramayuh arogya).
Dalam Manusmrti dikatakan,
jika menginginkan anak yang lahir laki-laki, hubungan perlu dilakukan setelah
selesai menstruasi, yaitu empat hari dan malam ke 6, 8, 10, 12, 14 dan 16. Di
sini, tiga hitungan dari belakang tersebut akan lahir bayi laki-laki yang
bagus. Tetapi, jika menginginkan anak perempuan, hubungan perlu dilakukan
setelah menstruasi pada malam ke 5, 7, 9 dan 15. Dikatakan pula, jika terjadi
kelebihan sperma dari laki-laki yang menyebabkan yang lahir laki-laki dan
kelebihan sukra dari istri akan melahirkan anak perempuan.
Sebelum melakukan hubungan suami
istri perlu diucapkan mantra berikut : Om Agni vayucandrasuryah prayascittayo
yuyam devanam prayascittayah stha brahmano vo nathakama upadhavami yasyah papi
laskmi stanusta masya apahat svana. (Gobhilgrhasutra-5). Terjemahan : “Oh Dewa
Agni, Vayu, Candra dan Surya, Engkau semua adalah dewa yang menyucikan segala
prayascitta, seperti api mengeluarkan kotoran-kotoran, menyucikan sebuah barang
dan lalu menjadikannya murni kembali. Dengan keinginan untuk mencari Tuhan,
saya mencari perlindungan para dewa supaya istriku bilamana pernah mendapatkan
kekayaan dengan tidak melalui jalan dharma sehingga menimbulkan dosa, mohon
dimaafkan”.
Beberapa hari setelah diketahui
istri hamil, perlu diucapkan mantra : Om suryo no divaspatu vato antariksat,
agnirnah, parthivebhyah. (Rgveda. 10.158.1). Terjemahan : “Oh Dewa Surya,
anugerahilah dari surga loka dan lindungilah jabang bayi yang masih dalam
kandungan ini, demikian juga semoga Dewa Bayu memberikan anugerah dari
antariksa dan dari bumi Dewa Agni melindungi”.
Ada pula mantra lain yang perlu
diucapkan yang berasal dari Rgveda : Dasa masanchasa yanah kumaro adhi matari,
niraitu jivo aksato jivo jivantya adhi. (Rgveda. 5.78.9).
2. Punsavana
Samskara
Suparnosi
garutmam strivrtte siro gayatran caksur brhad rathantare paksau, stoma atma
chandamsyangani yajumsi nama, sama te tanurvamadevyam yajnayajniyam pucchan
dhisnyah saphah, suparnosi garutman divan gaccha svah pata.
(Yajurveda
: 12-4)
“Wahai bayi yang ada dalam kandungan ibu, kamu
diibaratkan seekor burung yang memiliki sayap yang indah dan dalam pikiranmu
terdapat tiga pengetahuan yaitu jnana, karma dan bhakti. Dalam jnana marga,
Gayatri Mantra merupakan tujuanmu, dalam karma marga seperti kereta kuda di
mana terdapat roda-roda kereta yang meluncur dengan cepatnya, demikian juga
kamu menjalankan karma. Dalam bhakti marga, atmamu selalu memuja Tuhan”.
Tujuan dari Punsavana Samskara adalah
agar ibu memperhatikan bayi di dalam kandungan. Pada waktu bulan kedua atau
ketiga kehamilan ibu, pada waktu itu muncul dua permasalahan, yaitu jangan
sampai kehamilan tersebut gagal dan bayi yang dikandung jangan sampai tidak
sempurna. Supaya kedua hal itu tidak terjadi, para rsi memperkenalkan punsavana
samskara agar bayi yang dikandung berkembang dengan baik dan tidak ada hal
yang negatif.
Para rsi melalui 16 samskara
ingin supaya mulai dari kandungan sampai meninggal dunia, manusia diikat
dalam samskara sehingga mampu memperbaiki diri dan selalu ingat dengan
tujuan hidup ini, yaitu moksa. Para rsi juga percaya bahwa bayi
yang akan lahir bukanlah anak biasa karena telah dilaksanakan upacara Punsavana
sesuai dengan Veda. Melalui Samskara tersebut ibu akan selalu
sehat dan bayi yang akan lahir tanpa gangguan serta ibu yang mengikuti upacara
tersebut dapat membersihkan pikiran dan selalu tenang supaya bayi yang
dikandung bisa dipengaruhi oleh sifat-sifat baik. Para rsi percaya,
melalui samskara tersebut manusia bisa diubah menuju ke jalan yang benar.
Demikian juga bayi yang dikandung yang membawa karma-nya sendiri agar
menuju kebaikan dan lahir menjadi manusia sejati. Punsavana samskara dilakukan
setelah samskara kehamilan, yaitu garbhadhana. Punsavana
samskara perlu dilakukan agar bayi yang dikandung berkembang secara
sempurna dan sehat.
Dalam Caraka Samhita terdapat
beberapa hal penting. Buku yang ditulis oleh rsi Caraka itu menyatakan
pada sutra ke 42. Jika wanita yang hamil tidur telanjang, bayi yang
lahir akan gila. Jika dia suka bertengkar, bayi yang lahir akan berpenyakit.
Jika dia selalu berhubungan seks, bayi yang lahir juga akan demikian. Jika dia
selalu berpikir dan sedih, bayi yang lahir akan kurus dan takut. Jika dia makan
terlalu banyak asam, bayi yang lahir akan punya penyakit kulit. Jika dia makan
banyak garam, bayi yang lahir akan berambut cepat putih. Supaya yang dijelaskan
oleh Caraka tersebut tidak terjadi, hal-hal tersebut perlu diperhatikan.
Caraka dalam sutra ke 44 menjelaskan bahwa, sejak awal
kehamilannya, ibu hendaknya selalu berbahagia, memakai busana dan kain putih,
berpikiran yang tenang, dan dalam pikirannya selalu ada keinginan untuk
menolong orang lain, seperti ayah, suami, guru dan lain-lain. Dia harus
menjauhi diri dari wajah-wajah jelek, menghindari makan makanan basi,
menghindari pergi ke rumah yang kosong, demikian juga tempat pembakaran mayat.
Hal-hal di atas juga perlu diperhatikan supaya bayi yang dikandung berkembang
dengan baik tanpa gangguan.
Mantra di atas, yaitu suparno,
perlu diucapkan oleh suaminya dengan meletakkan tangan di atas perut istrinya,
dengan mantra yang berasal dari Yajurveda supaya anak mendapatkan ajaran
Veda yang mengajarkan tiga jalan kehidupan yaitu jnana, bakti,
dan karma marga untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia ini dan nanti
bisa mendapatkan moksa.
3. Simantonayana Samskara
Rakamaham
suhavam sustuti huve srnotu nah subhaga bodhatu tmana, Swyatvapah
sucyacchidyamanaya dadatu viram sata dayamukthayam.
(Rgveda
: 2.32.4)
“Saya sebagai seorang suami dengan
sopan dan dengan bahasa yang lemah lembut, memanggil istriku yang bercahaya
bagaikan bulan purnama. Demikian pula halnya yang telah mendengarkan kata-kata
kami dan menerima keinginan kami dalam hati yang tulus ikhlas. Seperti halnya
jarum yang menjahit kain tebal, demikian juga dengan istriku yang menjalankan
tugas grihastha
sehari-hari dengan baik. Seperti halnya
seorang istri melahirkan anak yang dapat menolong dunia dengan ratusan tangan
dan mendapatkan pujian dari masyarakat. Semoga lahir putra yang kuat agar nanti
dapat menyumbangkan kemampuannya untuk masyarakat”.]
Pumsavana Samskara perlu dilakukan demi kesehatan bayi agar berkembang dengan
baik, demikian juga Simantonayana Samskara perlu dilakukan demi
perkembangann mental bayi, agar sehat (mental development). Simant
berarti perkembangan pikiran, dengan demikian Simantonayana berarti
melalui samskara tersebut ibu memperhatikani bayinya supaya dapat
berkembang dengan mental yang sehat.
Para rsi percaya bahwa
melalui samskara (upacara) tersebut, manusia bisa diubah sesuai dengan
keinginan ayah ibu mereka. Susruta menjelaskan bahwa samskara tersebut
perlu dilakukan bulan keempat atau kedelapan. Dikatakan bahwa pada bulan
kelima, pikiran bayi yang berada dalam kandungan mulai berkembang, sedangkan
bulan keenam budi, bulan ketujuh anggota badan, dan bulan kedelapan cahaya ojas
(pancamane manah prati budhataram bhavati). Dengan demikian sampai bulan
kedelapan bayi yang ada dalam kandungan telah memiliki pikiran, budi, dan hati.
Dalam bahasa Sanskerta ibu disebut dauhrda
yang berarti memiliki dua hati, yaitu hatinya sendiri dan bayi yang berada
dalam kandungan karena bayi hanya memiliki karma dari kehidupan
sebelumnya dan sekarang akan bergabung dengan karma ibu. Supaya pengaruh
terhadap bayi menjadi baik, perlu dilakukan upacara, Simantonayana
karena apa pun yang dirasakan oleh ibu akan mempengaruhi bayinya.
Dalam Susruta dikatakan, jika
ibu yang sedang mengandung anak dengan upacara-upacara keagamaan, ia akan
melahirkan anak yang tertarik terhadap agama. Demikian juga jika ibu selalu
memikirkan tentang dewa-dewa, anak yang akan lahir akan memiliki sifat
kedewataan : devata pratimayam tu prasute parsado-pamam. (Susruta).
Begitu besar pengaruh pemikiran ibu terhadap bayinya, sehingga apa pun yang
dilakukan oleh ibu sangat berpengaruh terhadap bayinya.
Seperti diketahui ketika Abhimanyu
sedang dalam kandungan, Arjuna bercerita kepada istrinya tentang
sebuah Cakra Vyuha, yaitu salah satu strategi peperangan. Pada waktu Arjuna
menceritakan kepada istrinya, Abhimanyu yang masih berada dalam
kandungan mendengar semua. Setelah hampir semua cerita strategi peperangan itu
selesai istrinya tertidur, sehingga tidak sempat mendengar secara lengkap. Abhimanyu,
yang sudah dewasa bila menghadapi lawan-lawannya akan masuk ke dalam Cakra
Vyuha. Karena ibunya tertidur pada waktu ia masih dalam kandungan, Abhimanyu
tidak tahu bagaimana caranya untuk ke luar : Lalu Abhimanyu dibunuh
dalam Cakra Vyuha.
Perlu diupayakan agar anak
berkembang dalam kandungan dengan sempurna dan lahir dengan kekuatan mental
yang sehat. Untuk itu, perlu diucapkan mantra: yatheyam prthivi mahyuttana
garbhma dadhe, vam tam garbhama dhehi dasame masi sutave. (Asvalayana
: 1.14). Artinya, seperti ibu prthivi yang luas dan besar mempunyai
banyak tumbuhan dalam kandungannya, istriku mempunyai bayi dalam kandungan
selama sepuluh bulan dengan baik. Di samping itu, istri perlu diberikan doa
oleh para brahmana: Semoga kamu mempunyai keturunan yang perwira, semoga
kamu melahirkan anak yang hidup, dan semoga kamu menjadi istri suami yang
hidup. Virasustvam bhava, juasustavam bhava, jivapatni tvambhava (Ghobil:
2.7.12).
1.
Jatakarma
Samskara
Tryayusam
jamadagneh kasyapasya tryayusam, yaddevesu tryayusam tanno astu tryayusam.
(Yajurveda
: 3.62)
“Semoga
kami memperoleh umur panjang tiga kali lebih panjang dari orang yang melakukan
yajna, dari petani, dan dari seseorang yang memiliki sifat-sifat kedewataan. Seperti
mereka yang mendapatkan
umur panjang, demikian pula kami juga
mendapatkan umur yang lebih panjang tiga kali lipat dari mereka”.
Garbhadhana, Simantonayana dan Punsavana Samskara dilakukan pada waktu bayi
berada dalam kandungan ibu dan ketiga upacara ini disebut prenatal. Sedangkan samskara
keempat, yaitu Jatakarma dilakukan setelah bayi lahir ke dunia ini.
Sebelum bayi lahir, ibu dan faktor keturunan sangat berpengaruh terhadap bayi.
Tetapi setelah bayi lahir, lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap bayi. Jatakarma,
berarti setelah bayi lahir perlu dilakukan beberapa hal supaya anak yang lahir
ke dunia ini mendapat lingkungan yang baik hingga menjadi manusia yang baik
pula.
Setelah lahir, muka dan hidung bayi
perlu dibersihkan supaya dia bisa menerima air susu ibunya dengan baik. Dalam Susruta
dikatakan bahwa dalam upacara tersebut ibu dan ayah bayi tersebut sebenarnya
menulis AUM di atas lidah bayinya dengan madu, yang berarti semoga bayi
mengingat dan mengucapkan kata-kata AUM. Setelah itu, ibu dan ayah bayi dalam
upacara tersebut perlu mengucapkan kata-kata AUM, “vedo asi” di telinga
bayi yang berarti namamu adalah Veda. Dengan demikian ibu dan ayah
memberikan nama Veda. Yang dimaksud di sini adalah supaya anak memiliki
pengetahuan melalui Veda, selalu mendengarkan dan mengikuti ajaran Veda.
Tujuan menulis “Omkara” pada lidah bayi dan mengucapkan “vedo asi”
di telinga bayi adalah supaya anak tidak terlalu terpengaruh oleh sifat-sifat
duniawi dan menuju kebenaran atau lebih mengutamakan kehidupan spiritual.
Pada waktu menulis “Omkara” di atas
lidah bayi perlu diucapkan mantra dari Asvalayana Grhasutra, sebagai berikut :
Om prate dadami madhuno ghrtasya vedam savitra prasutam maghonam ayusman gupto
devatabhih satam jiva sarado loke asmin (Asvalayana Grhasutra : 1.15.1).
Artinya adalah : Kami meneteskan manu madu dan mentega yang semuanya disiapkan
oleh raja kekayaan, yaitu Tuhan. Dengan mengetahui hal itu, semoga kamu hidup
di dunia ini selama seratus tahun”. Yang dimaksud di sini ialah tetesan madu,
mentega dan tulisan “Omkara” sekaligus memperkenalkan makanan dan minuman
supaya anak yang baru lahir tersebut bisa hidup sehat dan dengan makanan yang
sattvika dia dapat hidup seratus tahun tanpa mendapat penyakit. Dalam mantra
Brahmana dikatakan bahwa madu dan mentega adalah makanan yang merupakan
kehidupan dan amrta.
Mantra yang perlu diucapkan untuk
keselamatan ibu adalah : Om idasi maitravaruni vire viramajijanathah satvam
viravati bhava yasman viravatoakarat (Paraskar Grhasutra 1.16.19). Artinya
adalah : Semoga kamu memiliki budi seperti Deva Mitra dan Varuna,
semoga kamu selalu melahirkan anak yang sehat untuk melanjutkan keturunan yang
baik. Dalam Jatakarma Samskara, ibu sebelum memberikan susu kepada
bayinya perlu mengucapkan mantra berikut : Om imam stanamurjas vantam
dhayapam prapina magne sarirasya madhye, utsan jusasva madhu
mantamarvantsamudriyam sadanama visasva (Yajur veda. 17.87). Artinya adalah
“Oh anakku, minumlah susu ibu ini yang penuh dengan energi dan kekuatan“.
Dalam Ayurveda dikatakan anak yang mendapatkan air susu ibu akan tumbuh
dengan baik dan sehat, karena air susu ibu adalah makanan yang paling baik
untuk kesehatan bayi.
Setelah selesai upacara perlu
diucapkan mantra dari Atharvaveda oleh keluarga sebagai berikut Om vivasvanno
abhayam krnotu yah sutrama jiradanuh sudanuh, iheme vira bahavo bhavantu
gomadasvavan mayyastu pustam. (Atharva veda : 18.3.61). Terjemahan : Semoga
Tuhan memberikan perlindungan, memberikan kehidupan, memberikan segala-galanya,
menjauhkan kita dari kegelapan, Tuhan seperti itu memberikan abhayam (tanpa
ketakutan) dan di rumah ini selalu lahir putra yang baik dan binatang-binatang
terpelihara, dan selalu mendapatkan perlindungan.
Dengan demikian dalam jatakarma
samskara dimohon kepada Tuhan semoga anak yang lahir mendapat umur panjang.
Dalam mantra di atas, seperti seorang pelaksana yajna selalu mendapat
umur panjang, demikian pula seorang petani yang bekerja keras untuk
menghasilkan kebutuhan manusia (oleh karena itu petani disebut ayahnya
makanan). Petani sangat mendapat kehormatan dalam Veda. Setelah
pelaksana yajna dan petani, yang ketiga adalah seorang yang memiliki
sifat-sifat kedewataan. Menurut Veda, ketiga orang tersebut selalu akan
mendapatkan kedamaian dan mendapatkan umur panjang. Demikian juga, dengan
pelaksanaan jatakarma samskara dimohon kepada Tuhan semoga anak yang
lahir mengikuti ketiga orang tersebut dan hidupnya semoga lebih panjang dari
mereka.
2.
Namakarana
Samskara
Ko
asi katamo asi kasyasi ko namasi, yasya te namamanmahi yam tva some natitrpama,
bhurbhuvahsvah suprajah prajabhih syam suviro viraih suposah posaih.
(Yajurveda : 7.29)
“Pada hari ini kami memberikan nama
kepadamu, dan juga memuaskanmu dengan air susu ibu. Untuk itulah, wahai anakku,
siapakah sebenarnya kamu? Dan milik siapa? Dan yang manakah kamu? Siapakah
namamu?
Tuhan yang telah memberikan prana,
kebahagiaan, dan telah menjauhkan kita dari segala duka. Semoga kami mendapat
keturunan yang baik dari semua unsur gologan manusia dan para ksatriya
mendapatkan keturunan yang sehat dan perwira yang berkembang dengan makanan
yang sehat dan penuh gizi”.
Samskara kelima adalah samskara yang bertujuan untuk membentuk
manusia yang sejati. Samskara ini disebut Namakarana samskara
atau samskara untuk memberikan nama kepada anak. Dalam Veda dikatakan
bahwa nama yang diberikan kepada anak harus mempunyai makna dan tujuan yang
bisa mengingatkan kepada anak supaya menjadi sesuai dengan nama yang telah
diberikan. Dalam Laghu Pattrika dikatakan bahwa apapun yang kita
pikirkan, demikian pula yang diucapkan, dan apa yang kita ucapkan hendaknya
demikian pula yang kita lakukan.
Dalam kesusastraan Sanskerta konsep sabda
begitu penting. Melalui kata-kata kita bisa mencapai tujuan kehidupan. Orang
yang mempelajari Upanisad mengucapkan Soham (saya adalah Dia) dan
seorang pengikut Vedanta mengatakan aham bhrahma asmi.
Kata-kata yang bermakna sangat
berpengaruh dalam kehidupan manusia, demikian pula nama. Jika nama yang
diberikan bermakna, seseorang bisa menjadi seperti namanya. Seperti Vivekananda,
Viveka berarti pengetahuan, dan ananda berarti kebahagiaan
sempurna. Dan Swami Vivekananda membuktikan hal ini. Beberapa hal
dibahas dalam Samskara Vidhi yang ditulis oleh Swami Dayananda
Sarasvati yang perlu dipelajari untuk memperdalam samskara-samskara tersebut.
Menurut Swami Dayananda nama-nama yang tidak boleh diberikan kepada anak
adalah mengambil nama jenis burung, binatang, nama-nama kota, dan sejenisnya.
Dalam Manavadharmasastra (3-9) dikatakan bahwa wanita yang mempunyai
nama yang berkaitan dengan naksatra, pohon, sungai, gunung, burung, dan
ular sebaiknya dihindari. Hal tersebut disebabkan karena nama-nama tersebut
tidak bisa memberikan sesuatu, sehingga nama-nama tersebut perlu dihindari.
Dengan demikian nama-nama yang perlu diberikan kepada anak adalah nama-nama
yang dalam pengucapannya enak dan tidak sulit diucapkan.
Nama yang dalam satu suku kata
mengandung beberapa konsonan perlu dihindari untuk menghindari pengucapan yang
sulit dan kesalahan pengucapan. Dalam Samskara Vidhi juga dikatakan
bahwa beberapa huruf baik konsonan dan vokal yang perlu digunakan dalam sebuah
nama, yaitu konsonan meliputi gha, na, ja, jha, na, da, dha, ba, bha, ma,
ya, ra, la, va, dan ha, dan vokal meliputi a (pendek),
(panjang), i (pendek), dan
(panjang). Tujuan dari penggunaan huruf
tersebut adalah mudah untuk diucapkan dan mempunyai suara merdu.
Dalam Caraka Samhita
dikatakan bahwa nama yang akan diberikan kepada anak perlu dikaitkan dengan Naksatra
dan Muhurta. Untuk memahami dengan mudah, setiap hari ada dewa-dewa yang
khusus, sehingga pemberian nama sebaiknya berkaitan dengan dewa-dewa tersebut.
Seperti dalam kalender Hindu terdapat 16 tithi dan 14 hari yaitu tanggal
1 sampai dengan 14 dan ditambah dua hari, yaitu purnama dan tilem. Enam belas
hari itu mempunyai 16 dewa tersendiri, nama-nama yang diberikan hendaknya
berkaitan dengan dewa-dewa tersebut. Dewa-dewa tersebut berurutan dari tanggal
1 sampai dengan tanggal 14 dan purnama dan tilem, yaitu Brahma, Tvastr,
Visnu, Yama, Soma, Kumara, Muni, Vasu, Siva, Dharma, Rudra, Vayu, Kama, Ananta,
Visvedeva dan Pitar.
Mantra di atas perlu diucapkan pada
waktu memberikan nama kepada anak. Para keluarga dan teman-teman yang hadir
dalam upacara tersebut mengucapkan mantra untuk keselamatan anaknya sebagai
berikut: he balak, tvam ayusman varcasvi tejasvi sriman bhuyah.
Terjemahan, wahai anak, semoga kamu panjang umur, memiliki pengetahuan, menjadi
dermawan, mempunyai cahaya, dan memiliki kekayaan. Dengan demikian Namakarana
samskara hendaknya dilaksanakan pada hari kesebelas.
3.
Niskramana
Samskara
Taccaksur
devahitam purastacchukramuccarat, pasyema saradah satam jivema saradah satam
srnuyama saradah satam prabravama saradah satam satamadinah syama saradah satam
bhuyasca saradah satat.
(Yajurveda
: 36-24)
“Tuhan melalui sinar matanya,
menjadi penunjuk jalan bagi semua makhluk dan Mahapenolong para sarjana, dia
pertama dan tertinggi dalam kekuatan. Semoga kami dapat melihat selama seratus
tahun, dan semoga kami dapat mendengar selama seratus tahun, bebas dari
perbudakan selama seratus tahun, dan hidup bahagia lebih dari seratus tahun”.
Samskara yang ke enam adalah Niskramana Samskara. Niskaramana,
berarti bebas ke luar. Maksudnya, bayi yang selalu berada di dalam rumah
bersamaan sang ibu bisa dibawa ke luar rumah setelah dilaksanakan upacara Niskaramana
Samskara. Dengan dilaksanakannya upacara tersebut, anak akan memperoleh
udara segar dan cahaya Deva Surya. Deva Surya memberikan
kehidupan baru bagi setiap orang di dunia ini. Melalui Samskara tersebut,
anak akan melihat surya (matahari). Saat upacara orang tua sang anak
harus mengucapkan mantra seperti di atas Tuhan berkenan memberi anak kehidupan
selama seratus tahun. Pada malam hari setelah upacara selesai, sang ibu
menyerahkan anaknya kepada sang ayah. Kemudian sambil membawa air di tangan,
sang ayah berdiri menghadap bulan dan mengucapkan mantra : Om
yadadascandramasi krsnam prthivya hrdayam sritam tadaham vidvanstatpasyan maham
pautramagham rudam (Mantra Brahman : 1-5-13)
Menurut Gobhil Grhasutra :
Niskramana, sebaiknya dilaksanakan pada bulan ketiga setelah kelahiran. (jannat
yahtratiyah jautsnah tasya tratiyayam). Namun, Paraskara Grhasutra
mengijinkan bila samskara tersebut dilaksanakan pada bulan keempat. Jadi
tujuan dilaksanakannya Niskramana samskara adalah agar anak yang baru
berumur beberapa bulan bisa diajak ke luar rumah agar mengenal lingkungan
hidupnya dan mampu hidup lebih dari seratus tahun. Supaya anak tidak meninggal
dunia atau tidak mendapat kesulitan dalam kehidupannya, orang tua perlu
mengucapkan mantra demi keselamatannya sebagai berikut : ma aham pautram
agham nigam, ma aham pautram agham risam, yang berarti semoga putraku
berumur panjang dan tidak meninggal sebelum kami.
Setelah Samskara tersebut
selesai, keluarga dan teman-teman mengucapkan mantra berikut : he balak tvam
jiva saradah satam vardhamanah, yang berarti, wahai anak semoga kamu
panjang umur dan hidup seratus tahun.
4.
Annaprasana
Samskara
Annapatennasya no dehyanamivasya susminah, Prappra
datarantarisa urjan no dehi dvipade catuspade.
(Yajurveda:
11-83)
‘Oh Tuhan, Engkau
adalah sumber dari segala makanan, berikanlah kami makan-makanan yang
mengandung gizi dan tidak mengandung penyakit. Jauhkanlah kami dari segala duka
dan berikanlah kekuatan kepada semua manusia dan hewan-hewan’.
Samskara ke tujuh adalah annaprasana samskara. Annaprasana
samskara ini dilaksanakan saat anak berusia enam bulan, seperti disebutkan
dalam Asvalayana Grhasutra 1-16-1: sasthe massi annaprasanam. Annaprasana,
yang berarti makanan yang dimakan oleh anak pertama kali sejak kelahirannya.
Dengan melaksanakan samskara tersebut, anak bisa disapih dari air susu
ibu dan mulai diberi makanan yang lembut, misalnya bubur. Pada usia enam bulan
biasanya anak sudah mulai tumbuh gigi sehingga makanan halus yang diberikan
bisa dicerna dengan baik dan sedikit demi sedikit bisa disapih, karena bila ibu
terus-menerus menyusui kesehatannya bisa terganggu.
Samskara tersebut perlu dilaksanakan karena dalam Veda
ditulis: annam vai prana, yang berarti makanan adalah prana
(napas) itu sendiri. Berkat makananlah pikiran dapat berkembang. Makanan memegang
peranan penting dalam kehidupan manusia. Makanan yang dimakan oleh seseorang
berpengaruh terhadap pikiran. Jika dia seorang vegetarian (makanan sattvika),
maka pikirannya juga sattvika (baik). Karena itu saat samskara
tersebut dilaksanakan, anak yang berusia enam bulan bisa diberikan makanan sattvika
dengan mengucapkan mantra dari Veda sehingga ia selalu makan makanan
yang sattvika.
Di samping itu anak baik juga diberi
madu dan susu. Dalam Ayurveda disebutkan bahwa madu dan susu penting
bagi kesehatan anak. Dalam pelaksanaan upacara tersebut orang tua juga perlu
mengucapkan mantra berikut: Om pranenannamasiya svaha, Om apanen
gandhanasiya svaha, Om caksusa rupanyasiya svaha, Om srotrena yaso asiya svaha,
(Paraskar 1-9-4), yang berarti semoga prana, apana, mata dan
telinga selalu sehat dengan makan-makanan yang bergizi.
Dengan mengucapkan mantra di awal
tulisan ini, makanan bisa diberikan kepada anak, mantra Annapate juga
sebaiknya diucapkan oleh setiap orang sebelum makan. Menurut Veda, mantra
yang perlu diucapkan sesudah makan adalah Om mo ghamannavam vindate
apracetah satyam bravimi vadha itsa tasya, naryamanam pusyasti no sakhayam
kevalagho bhavati kevaladi (Rg Veda 10-117-6), yang berarti orang yang
makan sendiri tanpa membagi-bagikan kepada orang lain, berarti memakan dosa.
5.
MUNDANA
SAMSKARA
Ayamagantsavita
ksurenosne na vaya udakenehi,
Aditya
rudra vasava undantu sacetasah somasya rajno vapata pracetasah.
(Atharvaveda:
6.68.1)
‘Wahai tukang cukur rambut yang ahli,
datanglah dengan alat cukurmu. Seperti angin yang datang membawa air embun yang
hangat demikian juga engkau datang dengan air yang hangat. Para cendekiawan dan
brahmacari yaitu Aditya, Rudra, dan Vasu, semoga semuanya memberi rakhmat
kepada anak ini. Para ahli tukang cukur rambut mencukur rambut anak yang tenang
dan bercahaya ini’.
Samskara kedelapan adalah Mundana Samskara. “Mundana”,
berarti tidak memiiki rambut atau gundul. Dengan dilaksanakannya samskara
tersebut, rambut anak sebaiknya dipotong. Dalam mantra di atas terdapat kata usne
na udakenehi yang berarti potonglah rambut dengan air yang hangat. Dengan
demikian, diharapkan bayi tidak terluka dan terinfeksi alat cukur.
Menurut Asvalayana Grhasutra,
samskara kedelapan dilaksanakan pada tahun ketiga (1-17-1) trtiye varse
caulam. Tetapi Paraskara Grhasutra (2-1-1) meyebutkan bahwa samskara
tersebut juga bisa dilakukan setelah satu tahun (samvatsarikasya cudakaranam).
Pada umumnya anak yang berusia enam sampai tujuh bulan sudah mulai tumbuh gigi.
Saat usia tersebut anak biasanya mengalami sakit kepala, diare, rewel (menangis
terus menerus) dan sebagainya. Untuk mengurangi hal-hal semacam itu, rambut
anak sebaiknya dipotong agar kepalanya sejuk dan ringan.
Mundane samskara berhubungan pula dengan perkembangan otak, terutama
celebrum dan cerebellum, sampai sempurna. Setelah tiga tahun rambut yang
dianggap kotor tersebut bisa dipotong sehingga tumbuh rambut yang baru serta berbagai
macam penyakit kulit dapat dihindari. Pentingnya rambut bayi dipotong
dijelaskan dalam Atharvaveda bahwa untuk mendapatkan umur panjang,
rambut sebaiknya dipotong terlebih dahulu (6-8-2 :Dirghayutvaya).
Dalam agama Hindu, konsep gundul
memiliki makna khusus karena terdapat dalam salah satu Upanisad, yaitu Mundakopanisad.
“Mundaka” , berarti orang yang telah menjadi gundul. Dalam konsep Catur
Asrama seorang samnyasi tidak boleh memelihara rambut. Bahkan dalam Upanisad
disebutkan bahwa Brahmavidya (pengetahuan tentang Tuhan) boleh diberikan
kepada orang yang telah gundul (Sirovrata: 3-10). Orang gundul yang
dimaksud adalah orang yang sudah melepaskan segala ikatan keduniawian dan
memperoleh Vairagya.
Mantra di awal tulisan ini sebaiknya
diucapkan sebelum memotong rambut. Melalui mantra tersebut dimohon supaya para Brahmacari,
yakni Aditya, Rudra, dan Vasu yang memiliki kekuatan istimewa,
memberikan anugerah kepada anak agar selalu bahagia dan memperoleh ketenangan
dalam kehidupannya.
6.
KARNAVEDHA
SAMSKARA
Bhadram karnebhih srnuyama deva bhadram pasyemaksabhir
yajatrah, Sthirair angaistustavam sastanubhir vyasemahi devahitam yadayuh.
7.
(
Yajurveda: 25-21)
‘Oh para Dewa! Semoga kami mendengar
segala yang baik-baik dari telinga kami. Oh Makakekuatan, semoga kami dapat
melihat yang baik-baik dengan mata kami. Semoga badan kami dengan anggota tubuh yang kuat
dapat memuja-Mu dan dapat memperoleh umur sesuai dengan karma kami’.
Samskara kesembilan adalah Karnavedha Samskara.
Karna, berarti telinga dan “vedha” berarti menindik. Menurut Katyayana
Grhasutra, samskara ini sebaiknya dilaksanakan pada tahun ketiga atau
kelima (karnavedho varsetrtiye pancame va). Sementara itu, Susruta
membahas makna samskara tersebut, yaitu melindungi kesehatan anak dan
mengenakan perhiasan (raksabhusananamittam balasya karnau vidhyate).
Dalam buku Cakrapani ditulis karnavyadhe
krte balo na grahair abhibhutyate, yang artinya: dengan menindik telinga, pengaruh
perbintangan (astrologi) yang jahat tidak bisa menyerang anak. Pendapat ini
tidak sesuai dengan veda. Namun beberapa penyakit dapat dicegah dengan
melaksanakan samskara tersebut seperti yang ditulis dalam Susruta,
bahwa anak laki-laki akan terhindar dari penyakit hernia.
Menurut Susruta, sebuah urat
akan terpotong saat telinga ditindik yang menyebabkan penyakit hernia bisa
dihindari. Ulasan Susruta yang merupakan buku terkuno tentang ilmu bedah
(surgery) belum mendapat perhatian para dokter modern. Melalui samskara
tersebut, anak laki-laki maupun perempuan bisa mengenakan perhiasan.
Perhiasan dikenakan dengan dua tujuan, yaitu untuk tampil menarik dan
mendapatkan rasa nyaman (karena emas memiliki kekuatan sehingga mempengaruhi
kesehatan pemakainya). Jadi karnavedha samskara bisa dilakukan bagi anak
laki-laki maupun perempuan. Hal itu terbukti sampai sekarang sehingga kaum
perempuan menindik telinga mereka. Bahkan pada zaman dahulu pria pun, khususnya
para ksatriya melakukannya. Ada kemungkian samskara tersebut juga
berkaitan dengan upacara potong gigi yang ada di Bali.
Samskara kesembilan dilakukan mulai dari menindik telinga sampai
dengan potong gigi. Selain samskara tersebut, tidak ada samskara
lain yang memiliki hubungan yang begitu dekat dengan upacara potong gigi.
Dengan demikian, mantra di atas perlu diucapkan sebelum samskara
tersebut dilaksanakan agar anak yang baru beberapa tahun selalu mendengar dan
melihat yang baik-baik, dengan tubuhnya yang sehat dan kuat selalu memuja
Tuhan, memiliki sifat-sifat menuju ke jalan yang benar.
8.
UPANAYANA
SAMSKARA
Yajnopavitam
paramam pavitram prajapateryatsahajam purastat, ayusya magryam pratimunca
subhram yajnopavitam balamastu tejah, yajnpavitamasi yajnasya tva
yajnopavitenopanahyami.
(Paraskara
Grhasutra: 2-2-11)
‘Yajnopavita yang sangat suci yang telah ada
sejak zaman dahulu yang sama dengan Deva Prajapati. Benang tersebut dapat
memberikan umur panjang dan membawa ke masa depan. Letakkanlah di atas bahumu.
Semoga yajnopavitam tersebut memberikan kekuatan dan cahaya. Wahai anak, kamu
sebenarnya adalah yajnopavita itu sendiri. Aku dekat denganmu melalui
yajnopavitam tersebut’.
Mantra diatas dikutip dari Paraskara
Grhasutra yang diperkenalkan oleh Swami Dayananda dalam Samskara
Vidhi untuk Upanayana Samskara. Sebenarnya dalam Atharva Veda (11-5-3)
terdapat mantra mengenai Upanayana Samskara yang berbunyi: acarya
upanayamano brahmacarinam krnute garbhamantah, tam ratristisra udare bibharti
tam jatam drastum abhisamyanti devah. Artinya semoga melalui Upanayana
Samskara, guru melindungi muridnya seperti seorang ibu melindungi bayi dalam
kandungannya. “Upa” berarti dekat dan “nayan” berarti membawa, yang
maksudnya adalah mendekatkan anak kepada guru. Melalui Samskara tersebut
guru menerima anak sebagai muridnya. Dalam mantra diatas terlihat bagaimna
hubungan yang diharapkan antara murid dan guru. Semoga hubungan tersebut
menjadi teladan pada zaman ini. Dalam upanyana samskara, orang tua akan
berkata kepada guru (acarya) “Kami telah melahirkan anak ini dan berusaha
memberikan kehidupan yang baik. Sekarang kami ingin anak ini berkembang dalam
masyarakat supaya ia bisa menjadi orang yang baik. Oleh karena itu anak ini
kami serahkan kepada guru”. Saat itu guru akan memberikan tiga helai
benang, yang disebut yajnopavita, sebagai simbul anak itu boleh
mempelajari Veda dan ilmu pengetahuan yang lain. Tiga benang tersebut
merupakan simbul dari tiga rna (hutang), yaitu rsi rna, pitr rna, dan
deva rna.
Rsi rna berarti berhutang kepada leluhur, yaitu para rsi, sehingga
ajaran yang mereka berikan diteruskan kepada generasi berikutnya. Pitr rna,
berarti berhutang kepada orang tua sehingga kita harus menghormati mereka. Deva
rna, berarti berhutang kepada dewa-dewa sehingga kita harus memuja para
dewa.
Tiga helai benang tersebut akan
selalu mengingatkan kita agar melunasi ketiga hutang tersebut. Dalam upanayana
samskara, guru berkata kepada murid. “Wahai muridku, aku menyatukan
hatimu dan hatiku, pikiranmu akan selalu mengikutiku, kamu juga akan selalu mematuhi
ucapanku, dan mulai hari ini Deva Brhaspati menyatukan kita berdua” (Paraskar
Grhasutra: 2-2-16)
Grhasutra menjelaskan bahwa samskara
tersebut dilaksanakan pada tahun kedelapan untuk seorang anak brahmana,
tahun kesebelas untuk ksatriya, dan tahun keduabelas untuk vaisya
(astame varse brahmanam upanayet). Jika samskara tersebut tidak
dilaksanakan pada tahun yang sudah ditentukan, orang itu disebut Patita,
yaitu orang yang nama baiknya tercemar dalam masyarakat (ata urdhvam patita
savitrikabhavanti). Anak yang telah mendapatkan upanayana samskara disebut
dvija, yang artinya mengalami kelahiran yang kedua melalui guru, karena
sang guru yang akan membuka mata anak itu sehingga dapat melihat dengan benar.
Dalam Manava Dharmasastra dikatakan bahwa pada awal kelahirannya, semua
manusia adalah sudra. Melalui samskara-samskara tersebut seorang
manusia disebut dvija (janmana jayate sudra sansakarat dvija ucyate)
Konsep upanayana samskara dapat
dilihat dalam kisah Ramayana dan Mahabharata di mana para ksatriya
dan brahmana selalu memakai benang yang menandaskan mereka telah dvija.
Konsep samskara tersebut juga
dilaksanakan oleh orang-orang Parsi yang memakai beberapa benang, yang disebut kusti.
Dalam sebuah dialog Zarattushtra menanyakan kepada Ahura Mazda,
“Oh Ahura Mazda, kejahatan apa yang menyebabkan kematian?”
Ahura menjawab, “Memberikan ajaran yang tidak benar”
Zarattushtra berkata, “Siapa pun yang tidak memakai benang (kusti)
akan dihukum.
Dengan demikian samskara tersebut
mempunyai hubungan dengan agama lain. Jadi, upanayana samskara
dilaksanakan dengan tujuan agar anak mulai mendapat pendidikan dari sang guru
sehingga menjadi manusia sejati.
9.
VEDARAMBHA
SAMSKARA
Bhur bhuvah svah, tat savitur varenyam Bhargo devasya
dhimahi, dhiyo yo nah pracodayat.
(Yajurveda: 36-3)
‘Tuhan sebagai pemberi kehidupan,
menjauhkan dari segala duka dan memberikan kebahagiaan. Sebagai pencipta jagat
raya dan sumber dari segala cahaya dan pemberi kemakmuran, yang diinginkan oleh
semua umat manusia. Tuhan yang selalu memberi kemenangan kepada manusia, yang
merupakan Mahabaik dan menjadi pusat pikiran, penebus dosa yang Mahasuci, kami
menerima Tuhan yang seperti itu. Oh Tuhan anugerahkanlah kepada kami budi yang baik’.
“Vedarambha”, yang terdiri
dari kata “Veda” (pengetahuan) dan “arambha” (mulai), berarti
mulai menerima pengetahuan dari guru. Samskara tersebut sebaiknya
dilaksanakan di sekolah oleh para guru. Pada zaman dahulu samskara tersebut
biasa dilakukan di asrama atau di gurukula (keluarga guru) seperti yang
terdapat di India sampai sekarang. Vedarambha Samskara penting bagi
seorang anak karena melalui samskara penting bagi seorang anak karena
melalui samskara tersebut ia mendapat Gayatri Mantra yang merupakan
sumber segala Veda.
Setelah samskara tersebut
dilaksanakan, anak akan disebut brahmacari dan berhak mendapat pelajaran
tentang Veda dan brahmacari. Brahmacari mempunyai makna mencari
Tuhan ( “brahma” berarti Tuhan, “cari” berarti mencari). Salah
satu caranya adalah dengan bertapa di gurukula. Anak yang baru pertama
kali belajar di sekolah (gurukula) bersumpah untuk tinggal dengan setia
di asrama yang pertama, yang disebut brahamcari.
Saat menjalani pendidikan seorang brahmacari
harus mengendalikan semua indra dan tidak boleh berhubungan dengan wanita. Hal
ini bertujuan agar dasar yang membentuk kepribadiannya kuat sehingga mampu
menghadapi dunia setelah menyelesaikan pendidikan di gurukula.
Dalam samskara tersebut guru
memberikan beberapa nasehat: satyam vada, dharmam cara, svadhyayanma pramad,
matr devo bhava, pitr devo bhava, acarya devo bhava, atithi devo bhava (Taittiriya:
7-11-1- 4), yang berarti: Wahai anak, ucapkanlah selalu yang benar, selalu
mengikuti dharma, jangan malas belajar, hormat kepada orang tua, guru
dan para tamu yang datang meskipun tidak diundang.
Karman kuru, diva ma svapsih,
krodhanrte varjaya, upari sayyam varjaya, berarti
bekerjalah dengan rajin, jangan tidur pada siang hari, kendalikan kemarahan,
jangan tidur di atas kasur yang empuk.
Nasihat guru yang lain adalah engkau
adalah seorang brahmacari, laksanakan selalu sandhya (sembahyang),
minumlah acamana, pelajarilah Veda selama dua belas tahun, patuh
pada ucapan guru yang benar, jangan ikuti ucapan yang tidak benar, jangan
berhubungan kelamin, makan makanan sattvika, bersikaplah sopan, bicara
seperlunya dan senantiasa hormat kepada guru.
Konsep pendidikan Vidya dan Avidya
juga diperkenalkan dalam samskara ini. Seseorang bisa mendapatkan moksa
melalui vidya sedangkan melalui Avidya seseorang akan mendapatkan
keahlian dan kematian secara terus menerus. Oleh karena itu, guru akan
mengatakan kepada murid (sisya) sebagai berikut: tat tvam asi, aham
brahma asmi dan brahma satyam jaganmithya, yang berarti Engkau
adalah Dia (Tuhan), Atma itu sendiri adalah Brahma, hanya Brahma
yang Mahabenar dan yang lain adalah maya. Melalui kata-kata tersebut dan
dengan bertapa di dekat kaki guru, murid akan mendapatkan pengetahuan dan
merasakan aham brahma asmi, yang artinya “saya adalah Brahman (Tuhan)”.
10. SAMAVARTANA SAMSKARA
Uduttamam
varuna pasamasmad avadhamam vi madhyamam srathaya, Atha vayamaditya vrate
tawanagaso aditaye syama.
(Rgveda: 1-24-15)
‘Oh Deva Varuna, bebaskanlah kami dari ikatan di atas dan
bebaskanlah juga dari ikatan di bawah, serta bebaskan pula dari ikatan di
tengah. Setelah bebas dari ikatan-ikatan tersebut, kami dalam hukum-Mu yang
kekal akan mendapatkan moksa dan kami terbebas dari segala dosa’.
Samavartana samskara dilaksanakan setelah seorang anak menyelesaikan
pendidikannya. Samavartana, berarti kembali ke rumah setelah
menyelesaikan pendidikan. Anak, yang diharapkan bertapa dan dilarang hidup
mewah saat dalam masa pendidikan, dapat berkumpul kembali bersama keluarga dan
menikmati kehidupan duniawi.
Sebelum meninggalkan sekolah (gurukula),
guru akan memberikan nasihat terakhir agar sang murid mampu menghadapi dunia
luar. Nasihat itu berbunyi sebagai berikut:
Ye
ke casmat sreyamsah brahma nah tesam,
Tvayasanena
prasvasitavyam,
Sradhaya
deyam asradhaya deyam,
Sriya
deyam, hrya deyam, bhiya deyam, samvida deyam.
Yang berarti :
Bergaullah
dengan orang-orang baik dan bijaksana.
Bersedekahlah dengan hati yang tulus
(sraddha), tetapi meskipun tiada ketulusan, sebaiknya tetaplah
bersedekah.
Wahai
anakku, bagikanlah kepada orang lain jika kau memiliki kekayaan berlimpah,
bersedekahlah karena rasa malu bila kau tak rela, bersedekahlah demi
kesejahteraan umat manusia).
11. WIWAHA SAMSKARA
Wiwaha
Samskara merupakan upacara perkawinan untuk memasuki tingkat hidup grihastha
asrama, dengan tujuan untuk melanjutkan garis keturunan dan memenuhi kewajiban
secara sempurna. Pelaksanaan Wiwaha Samskara harus bersaksi kepada Sang Hyang
Widhi Wasa melalui agni homa atau semacam widhi wedana sehingga kedua mempelai
dianggap bersih jasmani dan rohaninya, selanjutnya dapat hidup sah sebagai
suami istri baik secara duniawi maupun spiritual.
Karna, berarti telinga dan “vedha” berarti menindik. Menurut Katyayana Grhasutra, samskara ini sebaiknya dilaksanakan pada tahun ketiga atau kelima (karnavedho varsetrtiye pancame va). Sementara itu, Susruta membahas makna samskara tersebut, yaitu melindungi kesehatan anak dan mengenakan perhiasan (raksabhusananamittam balasya karnau vidhyate).


terima kasih atas infonya. ini sangat bermanfaat bagi saya.
ReplyDeleteWynn Casino & Resort, Las Vegas - Mapyro
ReplyDeleteFind 사천 출장마사지 Wynn Casino & Resort, 영주 출장샵 Las 평택 출장안마 Vegas, Nevada, United States, reviews and prices from 11360 real guest reviews. Rating: 3.5 문경 출장샵 · 6,361 포천 출장샵 reviews