Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]

DEFINISI SAMSKARA

Kata “Samskara” berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki banyak arti, diantaranya yang erat kaitannyadengan pelaksanaan yadnya. Maka kata samskara berarti membudayakan, membiasakan, menyucikan, menjadikan sempurna, dan dapat pula berarti upacara keagamaan.

Apabila dihubungkan dengan kenyataan yang membudaya dalam masyarakat Hindu dalam hubungannya dengan pengamalan ajaran agama, maka kita hampir selalu akan melihat adanya pelaksanaan beraneka ragam upacara. Upacara-upacara tersebut sesungguhnya merupakan korban suci yang bertujuan untuk membersihkan lahir batin dan memelihara hidup umat manusia secara rohaniah, mulai dari terbentuknya jasmani di dalam kandungan sampai dengan berakhirnya kehidupan itu.

Jadi, samskara itu merupakan upacara keagamaan yang bertujuan untuk menyucikan badan dan menjadikannya sempurna, agar layak memuja Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam keadaan diri yang bersih atau suci itulah diharapkan Sang Hyang Widhi Wasa berkenan memberikan anugerah bahkan meragasukma pada diri manusia. Hal ini digambarkan dalam sebuah kitab Arjuna Wiwaha yang berbunyi :

Sasi wimbha haneng gatha mesi banyu, ndan asing suci nirmala mesi wulan, iwa mangkana rakwa kiteng kadadin, ring angmbeki yoga kiteng sakala”.

Artinya :

Bagaikan bayangan bulan pada tempayan yang berisi air, hanya pada air yang bersih dan tenang itulah bayangan bulan itu tampak. Demikianlah pula Dia akan menampakkan diri (meragasukma) pada orang yang berjiwa bersih dan suci.  Tujuan pelaksanaan samskara itu sangat mulia, yaitu mencapai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yang terdiri dari Dharma, Artha, Kama, dan Moksa atau dengan istilah lain “moksartham jagadhita ya ca iti dharma” yaitu tercapainya kesejahteraan hidup serta kebahagiaan yang hakiki dan sejati.

Pelaksanaan samskara bukan merupakan kebiasaan yang melembaga dalam masyarakat, melainkan pelaksanaan samskara itu adalah perintah agama yang dinyatakan di dalam kitab Weda Smerti II.26 yang berbunyi :

Waidikah karmabhih punyair, nisekadir durijanmanam, karyah sarira samskarah, pawanah pretyaceha ca”.

Artinya :

Sesuai dengan ketentuan-ketentuan pustaka suci Weda, para dwijati hendaknya melaksanakan upacara-upacara suci pada saat terjadinya pembuahan dalam rahim ibu dan upacara-upacara kemanusiaan lainnya, sehingga dapat menyucikan diri dari segala dosa dalam hidup ini maupun setelah meninggal.

JENIS JENIS SAMSKARA

1. Garbhadhana Samskara

 

Yatheyam prthivi mahi bhutanam garbhamadadhe,
Eva te dhriyatam garbho anu sutum savitave

(Atharvaveda : 6.17.1)
TERJEMAHAN
“Seperti halnya bumi yang luas ini, mengandung semua makhluk, demikian juga oh istriku engkau menjadi hamil dan dari kehamilan tersebut dapat melahirkan seorang yang seperti sang surya penuh dengan cahaya dan sinar”.


Mantra tersebut berasal dari Atharvaveda yang membicarakan tentang Garbhadhana samskara atau upacara sebelum kehamilan. Mantra tersebut perlu diucapkan sebelum suami istri mempunyai keinginan untuk mendapatkan keturunan atau anak. Dalam Susruta 1.35, dikatakan bahwa waktu untuk pernikahan pria di atas 25 tahun dan wanita dan di atas 16 tahun dan tidak boleh di bawah umur ini. Jika seorang anak lahir dari kandungan ibu di bawah umur ini, anak yang akan lahir kurang sempurna dan akan cepat meninggal. 

Dalam Manawa Dharmasastra 3.40.50 dikatakan bahwa waktu yang paling cocok untuk melakukan hubungan suami istri untuk menghasilkan anak adalah 16 hari setelah mulainya menstruasi. Empat hari setelah masa menstruasi atau setelah hari kelima sampai hari ke dua belas hari sejak selesai menstruasi dan jika hamil, anak yang lahir akan sempurna dan sehat serta bijaksana. Jika wanita hamil setelah hari kedua belas, anak yang lahir akan kurang sempurna dalam umur, kesehatan, kekayaan, keuntungan, kekuatan dan warna (tasu utarottaramayuh arogya). 

Dalam Manusmrti dikatakan, jika menginginkan anak yang lahir laki-laki, hubungan perlu dilakukan setelah selesai menstruasi, yaitu empat hari dan malam ke 6, 8, 10, 12, 14 dan 16. Di sini, tiga hitungan dari belakang tersebut akan lahir bayi laki-laki yang bagus. Tetapi, jika menginginkan anak perempuan, hubungan perlu dilakukan setelah menstruasi pada malam ke 5, 7, 9 dan 15. Dikatakan pula, jika terjadi kelebihan sperma dari laki-laki yang menyebabkan yang lahir laki-laki dan kelebihan sukra dari istri akan melahirkan anak perempuan. 

Sebelum melakukan hubungan suami istri perlu diucapkan mantra berikut : Om Agni vayucandrasuryah prayascittayo yuyam devanam prayascittayah stha brahmano vo nathakama upadhavami yasyah papi laskmi stanusta masya apahat svana. (Gobhilgrhasutra-5). Terjemahan : “Oh Dewa Agni, Vayu, Candra dan Surya, Engkau semua adalah dewa yang menyucikan segala prayascitta, seperti api mengeluarkan kotoran-kotoran, menyucikan sebuah barang dan lalu menjadikannya murni kembali. Dengan keinginan untuk mencari Tuhan, saya mencari perlindungan para dewa supaya istriku bilamana pernah mendapatkan kekayaan dengan tidak melalui jalan dharma sehingga menimbulkan dosa, mohon dimaafkan”. 

Beberapa hari setelah diketahui istri hamil, perlu diucapkan mantra : Om suryo no divaspatu vato antariksat, agnirnah, parthivebhyah. (Rgveda. 10.158.1). Terjemahan : “Oh Dewa Surya, anugerahilah dari surga loka dan lindungilah jabang bayi yang masih dalam kandungan ini, demikian juga semoga Dewa Bayu memberikan anugerah dari antariksa dan dari bumi Dewa Agni melindungi”.
Ada pula mantra lain yang perlu diucapkan yang berasal dari Rgveda : Dasa masanchasa yanah kumaro adhi matari, niraitu jivo aksato jivo jivantya adhi. (Rgveda. 5.78.9). 

  2. Punsavana Samskara

Suparnosi garutmam strivrtte siro gayatran caksur brhad rathantare paksau, stoma atma chandamsyangani yajumsi nama, sama te tanurvamadevyam yajnayajniyam pucchan dhisnyah saphah, suparnosi garutman divan gaccha svah pata.
                        (Yajurveda : 12-4) 

 “Wahai bayi yang ada dalam kandungan ibu, kamu diibaratkan seekor burung yang memiliki sayap yang indah dan dalam pikiranmu terdapat tiga pengetahuan yaitu jnana, karma dan bhakti. Dalam jnana marga, Gayatri Mantra merupakan tujuanmu, dalam karma marga seperti kereta kuda di mana terdapat roda-roda kereta yang meluncur dengan cepatnya, demikian juga kamu menjalankan karma. Dalam bhakti marga, atmamu selalu memuja Tuhan”.

Tujuan dari Punsavana Samskara adalah agar ibu memperhatikan bayi di dalam kandungan. Pada waktu bulan kedua atau ketiga kehamilan ibu, pada waktu itu muncul dua permasalahan, yaitu jangan sampai kehamilan tersebut gagal dan bayi yang dikandung jangan sampai tidak sempurna. Supaya kedua hal itu tidak terjadi, para rsi memperkenalkan punsavana samskara agar bayi yang dikandung berkembang dengan baik dan tidak ada hal yang negatif. 

Para rsi melalui 16 samskara ingin supaya mulai dari kandungan sampai meninggal dunia, manusia diikat dalam samskara sehingga mampu memperbaiki diri dan selalu ingat dengan tujuan hidup ini, yaitu moksa. Para rsi juga percaya bahwa bayi yang akan lahir bukanlah anak biasa karena telah dilaksanakan upacara Punsavana sesuai dengan Veda. Melalui Samskara tersebut ibu akan selalu sehat dan bayi yang akan lahir tanpa gangguan serta ibu yang mengikuti upacara tersebut dapat membersihkan pikiran dan selalu tenang supaya bayi yang dikandung bisa dipengaruhi oleh sifat-sifat baik. Para rsi percaya, melalui samskara tersebut manusia bisa diubah menuju ke jalan yang benar. Demikian juga bayi yang dikandung yang membawa karma-nya sendiri agar menuju kebaikan dan lahir menjadi manusia sejati. Punsavana samskara dilakukan setelah samskara kehamilan, yaitu garbhadhana. Punsavana samskara perlu dilakukan agar bayi yang dikandung berkembang secara sempurna dan sehat. 

Dalam Caraka Samhita terdapat beberapa hal penting. Buku yang ditulis oleh rsi Caraka itu menyatakan pada sutra ke 42. Jika wanita yang hamil tidur telanjang, bayi yang lahir akan gila. Jika dia suka bertengkar, bayi yang lahir akan berpenyakit. Jika dia selalu berhubungan seks, bayi yang lahir juga akan demikian. Jika dia selalu berpikir dan sedih, bayi yang lahir akan kurus dan takut. Jika dia makan terlalu banyak asam, bayi yang lahir akan punya penyakit kulit. Jika dia makan banyak garam, bayi yang lahir akan berambut cepat putih. Supaya yang dijelaskan oleh Caraka tersebut tidak terjadi, hal-hal tersebut perlu diperhatikan.
Caraka dalam sutra ke 44 menjelaskan bahwa, sejak awal kehamilannya, ibu hendaknya selalu berbahagia, memakai busana dan kain putih, berpikiran yang tenang, dan dalam pikirannya selalu ada keinginan untuk menolong orang lain, seperti ayah, suami, guru dan lain-lain. Dia harus menjauhi diri dari wajah-wajah jelek, menghindari makan makanan basi, menghindari pergi ke rumah yang kosong, demikian juga tempat pembakaran mayat. Hal-hal di atas juga perlu diperhatikan supaya bayi yang dikandung berkembang dengan baik tanpa gangguan.
Mantra di atas, yaitu suparno, perlu diucapkan oleh suaminya dengan meletakkan tangan di atas perut istrinya, dengan mantra yang berasal dari Yajurveda supaya anak mendapatkan ajaran Veda yang mengajarkan tiga jalan kehidupan yaitu jnana, bakti, dan karma marga untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia ini dan nanti bisa mendapatkan moksa.

3.  Simantonayana Samskara

Rakamaham suhavam sustuti huve srnotu nah subhaga bodhatu tmana, Swyatvapah sucyacchidyamanaya dadatu viram sata dayamukthayam.
                        (Rgveda : 2.32.4)
“Saya sebagai seorang suami dengan sopan dan dengan bahasa yang lemah lembut, memanggil istriku yang bercahaya bagaikan bulan purnama. Demikian pula halnya yang telah mendengarkan kata-kata kami dan menerima keinginan kami dalam hati yang tulus ikhlas. Seperti halnya jarum yang menjahit kain tebal, demikian juga dengan istriku yang menjalankan tugas grihastha

sehari-hari dengan baik. Seperti halnya seorang istri melahirkan anak yang dapat menolong dunia dengan ratusan tangan dan mendapatkan pujian dari masyarakat. Semoga lahir putra yang kuat agar nanti dapat menyumbangkan kemampuannya untuk masyarakat”.]

Pumsavana Samskara perlu dilakukan demi kesehatan bayi agar berkembang dengan baik, demikian juga Simantonayana Samskara perlu dilakukan demi perkembangann mental bayi, agar sehat (mental development). Simant berarti perkembangan pikiran, dengan demikian Simantonayana berarti melalui samskara tersebut ibu memperhatikani bayinya supaya dapat berkembang dengan mental yang sehat. 

Para rsi percaya bahwa melalui samskara (upacara) tersebut, manusia bisa diubah sesuai dengan keinginan ayah ibu mereka. Susruta menjelaskan bahwa samskara tersebut perlu dilakukan bulan keempat atau kedelapan. Dikatakan bahwa pada bulan kelima, pikiran bayi yang berada dalam kandungan mulai berkembang, sedangkan bulan keenam budi, bulan ketujuh anggota badan, dan bulan kedelapan cahaya ojas (pancamane manah prati budhataram bhavati). Dengan demikian sampai bulan kedelapan bayi yang ada dalam kandungan telah memiliki pikiran, budi, dan hati. 

Dalam bahasa Sanskerta ibu disebut dauhrda yang berarti memiliki dua hati, yaitu hatinya sendiri dan bayi yang berada dalam kandungan karena bayi hanya memiliki karma dari kehidupan sebelumnya dan sekarang akan bergabung dengan karma ibu. Supaya pengaruh terhadap bayi menjadi baik, perlu dilakukan upacara, Simantonayana karena apa pun yang dirasakan oleh ibu akan mempengaruhi bayinya.
Dalam Susruta dikatakan, jika ibu yang sedang mengandung anak dengan upacara-upacara keagamaan, ia akan melahirkan anak yang tertarik terhadap agama. Demikian juga jika ibu selalu memikirkan tentang dewa-dewa, anak yang akan lahir akan memiliki sifat kedewataan : devata pratimayam tu prasute parsado-pamam. (Susruta). Begitu besar pengaruh pemikiran ibu terhadap bayinya, sehingga apa pun yang dilakukan oleh ibu sangat berpengaruh terhadap bayinya. 

Seperti diketahui ketika Abhimanyu sedang dalam kandungan, Arjuna bercerita kepada istrinya tentang sebuah Cakra Vyuha, yaitu salah satu strategi peperangan. Pada waktu Arjuna menceritakan kepada istrinya, Abhimanyu yang masih berada dalam kandungan mendengar semua. Setelah hampir semua cerita strategi peperangan itu selesai istrinya tertidur, sehingga tidak sempat mendengar secara lengkap. Abhimanyu, yang sudah dewasa bila menghadapi lawan-lawannya akan masuk ke dalam Cakra Vyuha. Karena ibunya tertidur pada waktu ia masih dalam kandungan, Abhimanyu tidak tahu bagaimana caranya untuk ke luar : Lalu Abhimanyu dibunuh dalam Cakra Vyuha

Perlu diupayakan agar anak berkembang dalam kandungan dengan sempurna dan lahir dengan kekuatan mental yang sehat. Untuk itu, perlu diucapkan mantra: yatheyam prthivi mahyuttana garbhma dadhe, vam tam garbhama dhehi dasame masi sutave. (Asvalayana : 1.14). Artinya, seperti ibu prthivi yang luas dan besar mempunyai banyak tumbuhan dalam kandungannya, istriku mempunyai bayi dalam kandungan selama sepuluh bulan dengan baik. Di samping itu, istri perlu diberikan doa oleh para brahmana: Semoga kamu mempunyai keturunan yang perwira, semoga kamu melahirkan anak yang hidup, dan semoga kamu menjadi istri suami yang hidup. Virasustvam bhava, juasustavam bhava, jivapatni tvambhava (Ghobil: 2.7.12).

1.       Jatakarma Samskara

Tryayusam jamadagneh kasyapasya tryayusam, yaddevesu tryayusam tanno astu tryayusam.
(Yajurveda : 3.62)
“Semoga kami memperoleh umur panjang tiga kali lebih panjang dari orang yang melakukan yajna, dari petani, dan dari seseorang yang memiliki sifat-sifat kedewataan. Seperti mereka yang mendapatkan
 umur panjang, demikian pula kami juga mendapatkan umur yang lebih panjang tiga kali lipat dari mereka”.
Garbhadhana, Simantonayana dan Punsavana Samskara dilakukan pada waktu bayi berada dalam kandungan ibu dan ketiga upacara ini disebut prenatal. Sedangkan samskara keempat, yaitu Jatakarma dilakukan setelah bayi lahir ke dunia ini. Sebelum bayi lahir, ibu dan faktor keturunan sangat berpengaruh terhadap bayi. Tetapi setelah bayi lahir, lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap bayi. Jatakarma, berarti setelah bayi lahir perlu dilakukan beberapa hal supaya anak yang lahir ke dunia ini mendapat lingkungan yang baik hingga menjadi manusia yang baik pula.
Setelah lahir, muka dan hidung bayi perlu dibersihkan supaya dia bisa menerima air susu ibunya dengan baik. Dalam Susruta dikatakan bahwa dalam upacara tersebut ibu dan ayah bayi tersebut sebenarnya menulis AUM di atas lidah bayinya dengan madu, yang berarti semoga bayi mengingat dan mengucapkan kata-kata AUM. Setelah itu, ibu dan ayah bayi dalam upacara tersebut perlu mengucapkan kata-kata AUM, “vedo asi” di telinga bayi yang berarti namamu adalah Veda. Dengan demikian ibu dan ayah memberikan nama Veda. Yang dimaksud di sini adalah supaya anak memiliki pengetahuan melalui Veda, selalu mendengarkan dan mengikuti ajaran Veda. Tujuan menulis “Omkara” pada lidah bayi dan mengucapkan “vedo asi” di telinga bayi adalah supaya anak tidak terlalu terpengaruh oleh sifat-sifat duniawi dan menuju kebenaran atau lebih mengutamakan kehidupan spiritual.
Pada waktu menulis “Omkara” di atas lidah bayi perlu diucapkan mantra dari Asvalayana Grhasutra, sebagai berikut : Om prate dadami madhuno ghrtasya vedam savitra prasutam maghonam ayusman gupto devatabhih satam jiva sarado loke asmin (Asvalayana Grhasutra : 1.15.1). Artinya adalah : Kami meneteskan manu madu dan mentega yang semuanya disiapkan oleh raja kekayaan, yaitu Tuhan. Dengan mengetahui hal itu, semoga kamu hidup di dunia ini selama seratus tahun”. Yang dimaksud di sini ialah tetesan madu, mentega dan tulisan “Omkara” sekaligus memperkenalkan makanan dan minuman supaya anak yang baru lahir tersebut bisa hidup sehat dan dengan makanan yang sattvika dia dapat hidup seratus tahun tanpa mendapat penyakit. Dalam mantra Brahmana dikatakan bahwa madu dan mentega adalah makanan yang merupakan kehidupan dan amrta.
Mantra yang perlu diucapkan untuk keselamatan ibu adalah : Om idasi maitravaruni vire viramajijanathah satvam viravati bhava yasman viravatoakarat (Paraskar Grhasutra 1.16.19). Artinya adalah : Semoga kamu memiliki budi seperti Deva Mitra dan Varuna, semoga kamu selalu melahirkan anak yang sehat untuk melanjutkan keturunan yang baik. Dalam Jatakarma Samskara, ibu sebelum memberikan susu kepada bayinya perlu mengucapkan mantra berikut : Om imam stanamurjas vantam dhayapam prapina magne sarirasya madhye, utsan jusasva madhu mantamarvantsamudriyam sadanama visasva (Yajur veda. 17.87). Artinya adalah “Oh anakku, minumlah susu ibu ini yang penuh dengan energi dan kekuatan“. Dalam Ayurveda dikatakan anak yang mendapatkan air susu ibu akan tumbuh dengan baik dan sehat, karena air susu ibu adalah makanan yang paling baik untuk kesehatan bayi.
Setelah selesai upacara perlu diucapkan mantra dari Atharvaveda oleh keluarga sebagai berikut Om vivasvanno abhayam krnotu yah sutrama jiradanuh sudanuh, iheme vira bahavo bhavantu gomadasvavan mayyastu pustam. (Atharva veda : 18.3.61). Terjemahan : Semoga Tuhan memberikan perlindungan, memberikan kehidupan, memberikan segala-galanya, menjauhkan kita dari kegelapan, Tuhan seperti itu memberikan abhayam (tanpa ketakutan) dan di rumah ini selalu lahir putra yang baik dan binatang-binatang terpelihara, dan selalu mendapatkan perlindungan.
Dengan demikian dalam jatakarma samskara dimohon kepada Tuhan semoga anak yang lahir mendapat umur panjang. Dalam mantra di atas, seperti seorang pelaksana yajna selalu mendapat umur panjang, demikian pula seorang petani yang bekerja keras untuk menghasilkan kebutuhan manusia (oleh karena itu petani disebut ayahnya makanan). Petani sangat mendapat kehormatan dalam Veda. Setelah pelaksana yajna dan petani, yang ketiga adalah seorang yang memiliki sifat-sifat kedewataan. Menurut Veda, ketiga orang tersebut selalu akan mendapatkan kedamaian dan mendapatkan umur panjang. Demikian juga, dengan pelaksanaan jatakarma samskara dimohon kepada Tuhan semoga anak yang lahir mengikuti ketiga orang tersebut dan hidupnya semoga lebih panjang dari mereka.
2.      Namakarana Samskara
Ko asi katamo asi kasyasi ko namasi, yasya te namamanmahi yam tva some natitrpama, bhurbhuvahsvah suprajah prajabhih syam suviro viraih suposah posaih.
(Yajurveda : 7.29)
“Pada hari ini kami memberikan nama kepadamu, dan juga memuaskanmu dengan air susu ibu. Untuk itulah, wahai anakku, siapakah sebenarnya kamu? Dan milik siapa? Dan yang manakah kamu? Siapakah namamu?
Tuhan yang telah memberikan prana, kebahagiaan, dan telah menjauhkan kita dari segala duka. Semoga kami mendapat keturunan yang baik dari semua unsur gologan manusia dan para ksatriya mendapatkan keturunan yang sehat dan perwira yang berkembang dengan makanan yang sehat dan penuh gizi”.
Samskara kelima adalah samskara yang bertujuan untuk membentuk manusia yang sejati. Samskara ini disebut Namakarana samskara atau samskara untuk memberikan nama kepada anak. Dalam Veda dikatakan bahwa nama yang diberikan kepada anak harus mempunyai makna dan tujuan yang bisa mengingatkan kepada anak supaya menjadi sesuai dengan nama yang telah diberikan. Dalam Laghu Pattrika dikatakan bahwa apapun yang kita pikirkan, demikian pula yang diucapkan, dan apa yang kita ucapkan hendaknya demikian pula yang kita lakukan.
Dalam kesusastraan Sanskerta konsep sabda begitu penting. Melalui kata-kata kita bisa mencapai tujuan kehidupan. Orang yang mempelajari Upanisad mengucapkan Soham (saya adalah Dia) dan seorang pengikut Vedanta mengatakan aham bhrahma asmi.
Kata-kata yang bermakna sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, demikian pula nama. Jika nama yang diberikan bermakna, seseorang bisa menjadi seperti namanya. Seperti Vivekananda, Viveka berarti pengetahuan, dan ananda berarti kebahagiaan sempurna. Dan Swami Vivekananda membuktikan hal ini. Beberapa hal dibahas dalam Samskara Vidhi yang ditulis oleh Swami Dayananda Sarasvati yang perlu dipelajari untuk memperdalam samskara-samskara tersebut. Menurut Swami Dayananda nama-nama yang tidak boleh diberikan kepada anak adalah mengambil nama jenis burung, binatang, nama-nama kota, dan sejenisnya. Dalam Manavadharmasastra (3-9) dikatakan bahwa wanita yang mempunyai nama yang berkaitan dengan naksatra, pohon, sungai, gunung, burung, dan ular sebaiknya dihindari. Hal tersebut disebabkan karena nama-nama tersebut tidak bisa memberikan sesuatu, sehingga nama-nama tersebut perlu dihindari. Dengan demikian nama-nama yang perlu diberikan kepada anak adalah nama-nama yang dalam pengucapannya enak dan tidak sulit diucapkan.
Nama yang dalam satu suku kata mengandung beberapa konsonan perlu dihindari untuk menghindari pengucapan yang sulit dan kesalahan pengucapan. Dalam Samskara Vidhi juga dikatakan bahwa beberapa huruf baik konsonan dan vokal yang perlu digunakan dalam sebuah nama, yaitu konsonan meliputi gha, na, ja, jha, na, da, dha, ba, bha, ma, ya, ra, la, va, dan ha, dan vokal meliputi a (pendek), Description: https://narayanasmerti.files.wordpress.com/2009/01/011909-2225-garbhadhana1.png(panjang), i (pendek), dan Description: https://narayanasmerti.files.wordpress.com/2009/01/011909-2225-garbhadhana2.png(panjang). Tujuan dari penggunaan huruf tersebut adalah mudah untuk diucapkan dan mempunyai suara merdu.
Dalam Caraka Samhita dikatakan bahwa nama yang akan diberikan kepada anak perlu dikaitkan dengan Naksatra dan Muhurta. Untuk memahami dengan mudah, setiap hari ada dewa-dewa yang khusus, sehingga pemberian nama sebaiknya berkaitan dengan dewa-dewa tersebut. Seperti dalam kalender Hindu terdapat 16 tithi dan 14 hari yaitu tanggal 1 sampai dengan 14 dan ditambah dua hari, yaitu purnama dan tilem. Enam belas hari itu mempunyai 16 dewa tersendiri, nama-nama yang diberikan hendaknya berkaitan dengan dewa-dewa tersebut. Dewa-dewa tersebut berurutan dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 14 dan purnama dan tilem, yaitu Brahma, Tvastr, Visnu, Yama, Soma, Kumara, Muni, Vasu, Siva, Dharma, Rudra, Vayu, Kama, Ananta, Visvedeva dan Pitar.
Mantra di atas perlu diucapkan pada waktu memberikan nama kepada anak. Para keluarga dan teman-teman yang hadir dalam upacara tersebut mengucapkan mantra untuk keselamatan anaknya sebagai berikut: he balak, tvam ayusman varcasvi tejasvi sriman bhuyah. Terjemahan, wahai anak, semoga kamu panjang umur, memiliki pengetahuan, menjadi dermawan, mempunyai cahaya, dan memiliki kekayaan. Dengan demikian Namakarana samskara hendaknya dilaksanakan pada hari kesebelas.
3.      Niskramana Samskara
Taccaksur devahitam purastacchukramuccarat, pasyema saradah satam jivema saradah satam srnuyama saradah satam prabravama saradah satam satamadinah syama saradah satam bhuyasca saradah satat.

(Yajurveda : 36-24)

“Tuhan melalui sinar matanya, menjadi penunjuk jalan bagi semua makhluk dan Mahapenolong para sarjana, dia pertama dan tertinggi dalam kekuatan. Semoga kami dapat melihat selama seratus tahun, dan semoga kami dapat mendengar selama seratus tahun, bebas dari perbudakan selama seratus tahun, dan hidup bahagia lebih dari seratus tahun”.
Samskara yang ke enam adalah Niskramana Samskara. Niskaramana, berarti bebas ke luar. Maksudnya, bayi yang selalu berada di dalam rumah bersamaan sang ibu bisa dibawa ke luar rumah setelah dilaksanakan upacara Niskaramana Samskara. Dengan dilaksanakannya upacara tersebut, anak akan memperoleh udara segar dan cahaya Deva Surya. Deva Surya memberikan kehidupan baru bagi setiap orang di dunia ini. Melalui Samskara tersebut, anak akan melihat surya (matahari). Saat upacara orang tua sang anak harus mengucapkan mantra seperti di atas Tuhan berkenan memberi anak kehidupan selama seratus tahun. Pada malam hari setelah upacara selesai, sang ibu menyerahkan anaknya kepada sang ayah. Kemudian sambil membawa air di tangan, sang ayah berdiri menghadap bulan dan mengucapkan mantra : Om yadadascandramasi krsnam prthivya hrdayam sritam tadaham vidvanstatpasyan maham pautramagham rudam (Mantra Brahman : 1-5-13)
Menurut Gobhil Grhasutra : Niskramana, sebaiknya dilaksanakan pada bulan ketiga setelah kelahiran. (jannat yahtratiyah jautsnah tasya tratiyayam). Namun, Paraskara Grhasutra mengijinkan bila samskara tersebut dilaksanakan pada bulan keempat. Jadi tujuan dilaksanakannya Niskramana samskara adalah agar anak yang baru berumur beberapa bulan bisa diajak ke luar rumah agar mengenal lingkungan hidupnya dan mampu hidup lebih dari seratus tahun. Supaya anak tidak meninggal dunia atau tidak mendapat kesulitan dalam kehidupannya, orang tua perlu mengucapkan mantra demi keselamatannya sebagai berikut : ma aham pautram agham nigam, ma aham pautram agham risam, yang berarti semoga putraku berumur panjang dan tidak meninggal sebelum kami.
Setelah Samskara tersebut selesai, keluarga dan teman-teman mengucapkan mantra berikut : he balak tvam jiva saradah satam vardhamanah, yang berarti, wahai anak semoga kamu panjang umur dan hidup seratus tahun.
4.      Annaprasana Samskara
Annapatennasya no dehyanamivasya susminah, Prappra datarantarisa urjan no dehi dvipade catuspade.
(Yajurveda: 11-83)
 ‘Oh Tuhan, Engkau adalah sumber dari segala makanan, berikanlah kami makan-makanan yang mengandung gizi dan tidak mengandung penyakit. Jauhkanlah kami dari segala duka dan berikanlah kekuatan kepada semua manusia dan hewan-hewan’.
Samskara ke tujuh adalah annaprasana samskara. Annaprasana samskara ini dilaksanakan saat anak berusia enam bulan, seperti disebutkan dalam Asvalayana Grhasutra 1-16-1: sasthe massi annaprasanam. Annaprasana, yang berarti makanan yang dimakan oleh anak pertama kali sejak kelahirannya. Dengan melaksanakan samskara tersebut, anak bisa disapih dari air susu ibu dan mulai diberi makanan yang lembut, misalnya bubur. Pada usia enam bulan biasanya anak sudah mulai tumbuh gigi sehingga makanan halus yang diberikan bisa dicerna dengan baik dan sedikit demi sedikit bisa disapih, karena bila ibu terus-menerus menyusui kesehatannya bisa terganggu.
Samskara tersebut perlu dilaksanakan karena dalam Veda ditulis: annam vai prana, yang berarti makanan adalah prana (napas) itu sendiri. Berkat makananlah pikiran dapat berkembang. Makanan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Makanan yang dimakan oleh seseorang berpengaruh terhadap pikiran. Jika dia seorang vegetarian (makanan sattvika), maka pikirannya juga sattvika (baik). Karena itu saat samskara tersebut dilaksanakan, anak yang berusia enam bulan bisa diberikan makanan sattvika dengan mengucapkan mantra dari Veda sehingga ia selalu makan makanan yang sattvika.
Di samping itu anak baik juga diberi madu dan susu. Dalam Ayurveda disebutkan bahwa madu dan susu penting bagi kesehatan anak. Dalam pelaksanaan upacara tersebut orang tua juga perlu mengucapkan mantra berikut: Om pranenannamasiya svaha, Om apanen gandhanasiya svaha, Om caksusa rupanyasiya svaha, Om srotrena yaso asiya svaha, (Paraskar 1-9-4), yang berarti semoga prana, apana, mata dan telinga selalu sehat dengan makan-makanan yang bergizi.
Dengan mengucapkan mantra di awal tulisan ini, makanan bisa diberikan kepada anak, mantra Annapate juga sebaiknya diucapkan oleh setiap orang sebelum makan. Menurut Veda, mantra yang perlu diucapkan sesudah makan adalah Om mo ghamannavam vindate apracetah satyam bravimi vadha itsa tasya, naryamanam pusyasti no sakhayam kevalagho bhavati kevaladi (Rg Veda 10-117-6), yang berarti orang yang makan sendiri tanpa membagi-bagikan kepada orang lain, berarti memakan dosa.
5.      MUNDANA SAMSKARA
Ayamagantsavita ksurenosne na vaya udakenehi,
Aditya rudra vasava undantu sacetasah somasya rajno vapata pracetasah.
(Atharvaveda: 6.68.1)
 ‘Wahai tukang cukur rambut yang ahli, datanglah dengan alat cukurmu. Seperti angin yang datang membawa air embun yang hangat demikian juga engkau datang dengan air yang hangat. Para cendekiawan dan brahmacari yaitu Aditya, Rudra, dan Vasu, semoga semuanya memberi rakhmat kepada anak ini. Para ahli tukang cukur rambut mencukur rambut anak yang tenang dan bercahaya ini’.
Samskara kedelapan adalah Mundana Samskara.Mundana”, berarti tidak memiiki rambut atau gundul. Dengan dilaksanakannya samskara tersebut, rambut anak sebaiknya dipotong. Dalam mantra di atas terdapat kata usne na udakenehi yang berarti potonglah rambut dengan air yang hangat. Dengan demikian, diharapkan bayi tidak terluka dan terinfeksi alat cukur.
Menurut Asvalayana Grhasutra, samskara kedelapan dilaksanakan pada tahun ketiga (1-17-1) trtiye varse caulam. Tetapi Paraskara Grhasutra (2-1-1) meyebutkan bahwa samskara tersebut juga bisa dilakukan setelah satu tahun (samvatsarikasya cudakaranam). Pada umumnya anak yang berusia enam sampai tujuh bulan sudah mulai tumbuh gigi. Saat usia tersebut anak biasanya mengalami sakit kepala, diare, rewel (menangis terus menerus) dan sebagainya. Untuk mengurangi hal-hal semacam itu, rambut anak sebaiknya dipotong agar kepalanya sejuk dan ringan.
Mundane samskara berhubungan pula dengan perkembangan otak, terutama celebrum dan cerebellum, sampai sempurna. Setelah tiga tahun rambut yang dianggap kotor tersebut bisa dipotong sehingga tumbuh rambut yang baru serta berbagai macam penyakit kulit dapat dihindari. Pentingnya rambut bayi dipotong dijelaskan dalam Atharvaveda bahwa untuk mendapatkan umur panjang, rambut sebaiknya dipotong terlebih dahulu (6-8-2 :Dirghayutvaya).
Dalam agama Hindu, konsep gundul memiliki makna khusus karena terdapat dalam salah satu Upanisad, yaitu Mundakopanisad. “Mundaka” , berarti orang yang telah menjadi gundul. Dalam konsep Catur Asrama seorang samnyasi tidak boleh memelihara rambut. Bahkan dalam Upanisad disebutkan bahwa Brahmavidya (pengetahuan tentang Tuhan) boleh diberikan kepada orang yang telah gundul (Sirovrata: 3-10). Orang gundul yang dimaksud adalah orang yang sudah melepaskan segala ikatan keduniawian dan memperoleh Vairagya.
Mantra di awal tulisan ini sebaiknya diucapkan sebelum memotong rambut. Melalui mantra tersebut dimohon supaya para Brahmacari, yakni Aditya, Rudra, dan Vasu yang memiliki kekuatan istimewa, memberikan anugerah kepada anak agar selalu bahagia dan memperoleh ketenangan dalam kehidupannya.
6.      KARNAVEDHA SAMSKARA
Bhadram karnebhih srnuyama deva bhadram pasyemaksabhir yajatrah, Sthirair angaistustavam sastanubhir vyasemahi devahitam yadayuh.
7.      ( Yajurveda: 25-21)
‘Oh para Dewa! Semoga kami mendengar segala yang baik-baik dari telinga kami. Oh Makakekuatan, semoga kami dapat melihat yang baik-baik dengan mata kami. Semoga  badan kami dengan anggota tubuh yang kuat dapat memuja-Mu dan dapat memperoleh umur sesuai dengan karma kami’.
Samskara kesembilan adalah Karnavedha Samskara.
Karna, berarti telinga dan “vedha” berarti menindik. Menurut Katyayana Grhasutra, samskara ini sebaiknya dilaksanakan pada tahun ketiga atau kelima (karnavedho varsetrtiye pancame va). Sementara itu, Susruta membahas makna samskara tersebut, yaitu melindungi kesehatan anak dan mengenakan perhiasan (raksabhusananamittam balasya karnau vidhyate).
Dalam buku Cakrapani ditulis karnavyadhe krte balo na grahair abhibhutyate, yang artinya: dengan menindik telinga, pengaruh perbintangan (astrologi) yang jahat tidak bisa menyerang anak. Pendapat ini tidak sesuai dengan veda. Namun beberapa penyakit dapat dicegah dengan melaksanakan samskara tersebut seperti yang ditulis dalam Susruta, bahwa anak laki-laki akan terhindar dari penyakit hernia.
Menurut Susruta, sebuah urat akan terpotong saat telinga ditindik yang menyebabkan penyakit hernia bisa dihindari. Ulasan Susruta yang merupakan buku terkuno tentang ilmu bedah (surgery) belum mendapat perhatian para dokter modern. Melalui samskara tersebut, anak laki-laki maupun perempuan bisa mengenakan perhiasan. Perhiasan dikenakan dengan dua tujuan, yaitu untuk tampil menarik dan mendapatkan rasa nyaman (karena emas memiliki kekuatan sehingga mempengaruhi kesehatan pemakainya). Jadi karnavedha samskara bisa dilakukan bagi anak laki-laki maupun perempuan. Hal itu terbukti sampai sekarang sehingga kaum perempuan menindik telinga mereka. Bahkan pada zaman dahulu pria pun, khususnya para ksatriya melakukannya. Ada kemungkian samskara tersebut juga berkaitan dengan upacara potong gigi yang ada di Bali.
Samskara kesembilan dilakukan mulai dari menindik telinga sampai dengan potong gigi. Selain samskara tersebut, tidak ada samskara lain yang memiliki hubungan yang begitu dekat dengan upacara potong gigi. Dengan demikian, mantra di atas perlu diucapkan sebelum samskara tersebut dilaksanakan agar anak yang baru beberapa tahun selalu mendengar dan melihat yang baik-baik, dengan tubuhnya yang sehat dan kuat selalu memuja Tuhan, memiliki sifat-sifat menuju ke jalan yang benar.
8.      UPANAYANA SAMSKARA
Yajnopavitam paramam pavitram prajapateryatsahajam purastat, ayusya magryam pratimunca subhram yajnopavitam balamastu tejah, yajnpavitamasi yajnasya tva yajnopavitenopanahyami.
(Paraskara Grhasutra: 2-2-11)
 ‘Yajnopavita yang sangat suci yang telah ada sejak zaman dahulu yang sama dengan Deva Prajapati. Benang tersebut dapat memberikan umur panjang dan membawa ke masa depan. Letakkanlah di atas bahumu. Semoga yajnopavitam tersebut memberikan kekuatan dan cahaya. Wahai anak, kamu sebenarnya adalah yajnopavita itu sendiri. Aku dekat denganmu melalui yajnopavitam tersebut’.
Mantra diatas dikutip dari Paraskara Grhasutra yang diperkenalkan oleh Swami Dayananda dalam Samskara Vidhi untuk Upanayana Samskara. Sebenarnya dalam Atharva Veda (11-5-3) terdapat mantra mengenai Upanayana Samskara yang berbunyi: acarya upanayamano brahmacarinam krnute garbhamantah, tam ratristisra udare bibharti tam jatam drastum abhisamyanti devah. Artinya semoga melalui Upanayana Samskara, guru melindungi muridnya seperti seorang ibu melindungi bayi dalam kandungannya. “Upa” berarti dekat dan “nayan” berarti membawa, yang maksudnya adalah mendekatkan anak kepada guru. Melalui Samskara tersebut guru menerima anak sebagai muridnya. Dalam mantra diatas terlihat bagaimna hubungan yang diharapkan antara murid dan guru. Semoga hubungan tersebut menjadi teladan pada zaman ini. Dalam upanyana samskara, orang tua akan berkata kepada guru (acarya) “Kami telah melahirkan anak ini dan berusaha memberikan kehidupan yang baik. Sekarang kami ingin anak ini berkembang dalam masyarakat supaya ia bisa menjadi orang yang baik. Oleh karena itu anak ini kami serahkan kepada guru”. Saat itu guru akan memberikan tiga helai benang, yang disebut yajnopavita, sebagai simbul anak itu boleh mempelajari Veda dan ilmu pengetahuan yang lain. Tiga benang tersebut merupakan simbul dari tiga rna (hutang), yaitu rsi rna, pitr rna, dan deva rna.
Rsi rna berarti berhutang kepada leluhur, yaitu para rsi, sehingga ajaran yang mereka berikan diteruskan kepada generasi berikutnya. Pitr rna, berarti berhutang kepada orang tua sehingga kita harus menghormati mereka. Deva rna, berarti berhutang kepada dewa-dewa sehingga kita harus memuja para dewa.
Tiga helai benang tersebut akan selalu mengingatkan kita agar melunasi ketiga hutang tersebut. Dalam upanayana samskara, guru berkata kepada murid. “Wahai muridku, aku menyatukan hatimu dan hatiku, pikiranmu akan selalu mengikutiku, kamu juga akan selalu mematuhi ucapanku, dan mulai hari ini Deva Brhaspati menyatukan kita berdua” (Paraskar Grhasutra: 2-2-16)
Grhasutra menjelaskan bahwa samskara tersebut dilaksanakan pada tahun kedelapan untuk seorang anak brahmana, tahun kesebelas untuk ksatriya, dan tahun keduabelas untuk vaisya (astame varse brahmanam upanayet). Jika samskara tersebut tidak dilaksanakan pada tahun yang sudah ditentukan, orang itu disebut Patita, yaitu orang yang nama baiknya tercemar dalam masyarakat (ata urdhvam patita savitrikabhavanti). Anak yang telah mendapatkan upanayana samskara disebut dvija, yang artinya mengalami kelahiran yang kedua melalui guru, karena sang guru yang akan membuka mata anak itu sehingga dapat melihat dengan benar. Dalam Manava Dharmasastra dikatakan bahwa pada awal kelahirannya, semua manusia adalah sudra. Melalui samskara-samskara tersebut seorang manusia disebut dvija (janmana jayate sudra sansakarat dvija ucyate)
Konsep upanayana samskara dapat dilihat dalam kisah Ramayana dan Mahabharata di mana para ksatriya dan brahmana selalu memakai benang yang menandaskan mereka telah dvija.
Konsep samskara tersebut juga dilaksanakan oleh orang-orang Parsi yang memakai beberapa benang, yang disebut kusti. Dalam sebuah dialog Zarattushtra menanyakan kepada Ahura Mazda, “Oh Ahura Mazda, kejahatan apa yang menyebabkan kematian?”
Ahura menjawab, “Memberikan ajaran yang tidak benar”
Zarattushtra berkata, “Siapa pun yang tidak memakai benang (kusti) akan dihukum.
Dengan demikian samskara tersebut mempunyai hubungan dengan agama lain. Jadi, upanayana samskara dilaksanakan dengan tujuan agar anak mulai mendapat pendidikan dari sang guru sehingga menjadi manusia sejati.
9.      VEDARAMBHA SAMSKARA

Bhur bhuvah svah, tat savitur varenyam Bhargo devasya dhimahi, dhiyo yo nah pracodayat.
(Yajurveda: 36-3)
‘Tuhan sebagai pemberi kehidupan, menjauhkan dari segala duka dan memberikan kebahagiaan. Sebagai pencipta jagat raya dan sumber dari segala cahaya dan pemberi kemakmuran, yang diinginkan oleh semua umat manusia. Tuhan yang selalu memberi kemenangan kepada manusia, yang merupakan Mahabaik dan menjadi pusat pikiran, penebus dosa yang Mahasuci, kami menerima Tuhan yang seperti itu. Oh Tuhan anugerahkanlah kepada kami budi yang baik’.
Vedarambha”, yang terdiri dari kata “Veda” (pengetahuan) dan “arambha” (mulai), berarti mulai menerima pengetahuan dari guru. Samskara tersebut sebaiknya dilaksanakan di sekolah oleh para guru. Pada zaman dahulu samskara tersebut biasa dilakukan di asrama atau di gurukula (keluarga guru) seperti yang terdapat di India sampai sekarang. Vedarambha Samskara penting bagi seorang anak karena melalui samskara penting bagi seorang anak karena melalui samskara tersebut ia mendapat Gayatri Mantra yang merupakan sumber segala Veda.
Setelah samskara tersebut dilaksanakan, anak akan disebut brahmacari dan berhak mendapat pelajaran tentang Veda dan brahmacari. Brahmacari mempunyai makna mencari Tuhan ( “brahma” berarti Tuhan, “cari” berarti mencari). Salah satu caranya adalah dengan bertapa di gurukula. Anak yang baru pertama kali belajar di sekolah (gurukula) bersumpah untuk tinggal dengan setia di asrama yang pertama, yang disebut brahamcari.
Saat menjalani pendidikan seorang brahmacari harus mengendalikan semua indra dan tidak boleh berhubungan dengan wanita. Hal ini bertujuan agar dasar yang membentuk kepribadiannya kuat sehingga mampu menghadapi dunia setelah menyelesaikan pendidikan di gurukula.
Dalam samskara tersebut guru memberikan beberapa nasehat: satyam vada, dharmam cara, svadhyayanma pramad, matr devo bhava, pitr devo bhava, acarya devo bhava, atithi devo bhava (Taittiriya: 7-11-1- 4), yang berarti: Wahai anak, ucapkanlah selalu yang benar, selalu mengikuti dharma, jangan malas belajar, hormat kepada orang tua, guru dan para tamu yang datang meskipun tidak diundang.
Karman kuru, diva ma svapsih, krodhanrte varjaya, upari sayyam varjaya, berarti bekerjalah dengan rajin, jangan tidur pada siang hari, kendalikan kemarahan, jangan tidur di atas kasur yang empuk.
Nasihat guru yang lain adalah engkau adalah seorang brahmacari, laksanakan selalu sandhya (sembahyang), minumlah acamana, pelajarilah Veda selama dua belas tahun, patuh pada ucapan guru yang benar, jangan ikuti ucapan yang tidak benar, jangan berhubungan kelamin, makan makanan sattvika, bersikaplah sopan, bicara seperlunya dan senantiasa hormat kepada guru.
Konsep pendidikan Vidya dan Avidya juga diperkenalkan dalam samskara ini. Seseorang bisa mendapatkan moksa melalui vidya sedangkan melalui Avidya seseorang akan mendapatkan keahlian dan kematian secara terus menerus. Oleh karena itu, guru akan mengatakan kepada murid (sisya) sebagai berikut: tat tvam asi, aham brahma asmi dan brahma satyam jaganmithya, yang berarti Engkau adalah Dia (Tuhan), Atma itu sendiri adalah Brahma, hanya Brahma yang Mahabenar dan yang lain adalah maya. Melalui kata-kata tersebut dan dengan bertapa di dekat kaki guru, murid akan mendapatkan pengetahuan dan merasakan aham brahma asmi, yang artinya “saya adalah Brahman (Tuhan)”.
10.  SAMAVARTANA SAMSKARA
Uduttamam varuna pasamasmad avadhamam vi madhyamam srathaya, Atha vayamaditya vrate tawanagaso aditaye syama.
(Rgveda: 1-24-15)
‘Oh Deva Varuna, bebaskanlah kami dari ikatan di atas dan bebaskanlah juga dari ikatan di bawah, serta bebaskan pula dari ikatan di tengah. Setelah bebas dari ikatan-ikatan tersebut, kami dalam hukum-Mu yang kekal akan mendapatkan moksa dan kami terbebas dari segala dosa’.

Samavartana samskara dilaksanakan setelah seorang anak menyelesaikan pendidikannya. Samavartana, berarti kembali ke rumah setelah menyelesaikan pendidikan. Anak, yang diharapkan bertapa dan dilarang hidup mewah saat dalam masa pendidikan, dapat berkumpul kembali bersama keluarga dan menikmati kehidupan duniawi.
Sebelum meninggalkan sekolah (gurukula), guru akan memberikan nasihat terakhir agar sang murid mampu menghadapi dunia luar. Nasihat itu berbunyi sebagai berikut:
Ye ke casmat sreyamsah brahma nah tesam,
Tvayasanena prasvasitavyam,
Sradhaya deyam asradhaya deyam,
Sriya deyam, hrya deyam, bhiya deyam, samvida deyam.
Yang berarti :
Bergaullah dengan orang-orang baik dan bijaksana.
Bersedekahlah dengan hati yang tulus (sraddha), tetapi meskipun tiada ketulusan, sebaiknya tetaplah bersedekah.
Wahai anakku, bagikanlah kepada orang lain jika kau memiliki kekayaan berlimpah, bersedekahlah karena rasa malu bila kau tak rela, bersedekahlah demi kesejahteraan umat manusia).
11.  WIWAHA SAMSKARA
Wiwaha Samskara merupakan upacara perkawinan untuk memasuki tingkat hidup grihastha asrama, dengan tujuan untuk melanjutkan garis keturunan dan memenuhi kewajiban secara sempurna. Pelaksanaan Wiwaha Samskara harus bersaksi kepada Sang Hyang Widhi Wasa melalui agni homa atau semacam widhi wedana sehingga kedua mempelai dianggap bersih jasmani dan rohaninya, selanjutnya dapat hidup sah sebagai suami istri baik secara duniawi maupun spiritual.

 

2 comments:

  1. terima kasih atas infonya. ini sangat bermanfaat bagi saya.

    ReplyDelete
  2. Wynn Casino & Resort, Las Vegas - Mapyro
    Find 사천 출장마사지 Wynn Casino & Resort, 영주 출장샵 Las 평택 출장안마 Vegas, Nevada, United States, reviews and prices from 11360 real guest reviews. Rating: 3.5 문경 출장샵 · ‎6,361 포천 출장샵 reviews

    ReplyDelete

ads

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib